Kemenkumham: Intruksikan Gelar Razia Didalam Lapas dan Rutan, Tidak Boleh Ada Handphone Didalam Lapas dan Rutan -->

Advertisement


 

Kemenkumham: Intruksikan Gelar Razia Didalam Lapas dan Rutan, Tidak Boleh Ada Handphone Didalam Lapas dan Rutan

SANGRAJAWALI
Saturday

Kantor Kemenkumham Palembang

Star7tv.Online | Palembang - Terungkapnya kasus penipuan yang dilakukan oleh Narapida dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) dengan menggunakan telepon pintar atau Smartphone, membuat jajaran Kemenkumham Sumsel menjadi geram dan akan melakukan razia di setiap Lapas dan Rutan yang ada di Sumsel.

Humas Kemenkumham Sumsel Hamsir mengatakan, dengan diungkapnya kasus penipuan yang dilakukan narapidana oleh Ditreskrimsus Polda Sumsel, pihaknya akan mengintruksikan seluruh Lapas dan Rutan yang ada di Sumsel agar segera untuk menggelar razia di dalam Lapas dan Rutan.

"Untuk razia ini kita imbau dilakukan oleh setiap Lapas dan Rutan, dikarena itu dilakukan berdasarkan ketentuan dari Lapas dan Rutan masing-masing, jika ditemukan adanya barang-barang yang dilarang di dalam Lapas dan Rutan yang ditemukan maka sanksinya akan kita sita dan dilarang untuk di besuk," ujar Hamsir saat dihubungi oleh media star7tv, Jum'at (04/09/2020).

Hamsir juga mengatakan, masuknya barang-barang yang dilarang seperti telepon dikarenakan masih lemahnya alat pengawasan yang dimiliki pihaknya untuk memeriksa setiap barang yang dibawa oleh pembesuk.

"Kita akan intensifikan razia, tapi masih saja ada yang kedapatan memiliki handphone. Ada nuga alat pendeteksi seperti mesin Xray tapi itu barang nya mudah rusak dan tidak tahan lama," katanya.

Diberitakan sebelumnya, terdapat dua tersangka dalam kasus ini, yakni Andi Arli (42) dan Fadi Ahmad, keduanya merupakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Andi merupakan warga binaan Lapas Lubuk Linggau, sedangkan Fabdi Ahmad merupakan warga binaan Rutan Prabumulih.

Tersangka Andi Arli menipu korbannya dengan janji akan dinikahi kemudian meminta sejumlah uang sebesar Rp 17,5 juta.Sementara Fandi Ahmad memeras korbannya dengan cara mengancam akan menyebarluaskan video dan poto asusila selama berkomunikasi video call sex, uang yang didapat Rp 3,5 juta.

Diketahui,  Andi Arli merupakan warga binaan Lapas Lubuk Linggau yang menjalani hukuman pidana pencurian dengan masa tahanan selama dua tahun kurungan penjara. Sementara Fandi Ahmad warga binaan Rutan Prabumulih menjakani hukuman selama sembilan tahun penjara dengan kasus narkoba.

"Ya saya Intruksikan dan saya tegaskan agae segera untuk melakukan razia baik itu di Lapaa ataupun di Rutan," tegasnya.

Sekali lagi saya Intruksikan agar segera lakukan razia di dalam Lapaa atau Rutan, dan tidak ada lagi yang namanya barang tang di larang ada di dalam Lapas atau Rutan termasuk Handphone," tandanya. (Edi pirang)