-->

Notification

×

Iklan

Iklan

MANDEDE Tarian Histori dari Zaman SONSONG BULU, Awal Mula Penduduk Simeulue Abad Ke-13

Tuesday | June 23, 2020 WIB | 0 Views Last Updated 2020-06-26T15:52:59Z

Star7Tv.Online | Kabupaten Simeulue - Tarian MANDEDE KAMPUNG BONIK berasal dari sejarah dizaman kuno sekitar abad 1300 atau 720 tahun silam, kisah berawal ketika Pulau Simeulue masih disebut Pulau "U" (Pulau Kelapa) sebutan dalam bahasa Aceh nama itu melekat disebabkan banyak pohon kelapa yang tumbuh liar sedang bibit kelapa tersebut berasal dari kelapa yang hanyut dibawak arus laut dari daratan Sumatera dan terdampar hingga tumbuh memenuhi sepanjang pantai daratan Peulau Simeulue.


Pada masa itu, Pulau Simeulue di kuasai beberapa mahluk antaranya berbadan tinggi besar bahkan menurut sejarahnya ketinggian mereka mencapai puluhan meter (Raksasa) orang Simeulue mengenalnya dengan nama SONSONG, LAFOHEK, LASENGAK, LAMBOREK.

Benar adanya keberadaan para mahluk berbadan yang tinggi besar itu menguasai daerah Simeulue ini dapat dibuktikan jejak dan bekas yang masih ada sampai saat ini. Dalam episode selanjutnya kita akan mengupas bagaimana kisah hidup para mahluk tersebut dan manusia yang pertama tinggal di Pulau Simeulue diperkirakan pada abad KE-12.

Sedangkan manusia yang mendiami Pulau Simeulue masih sangat sedikit, untuk makanan sehari-hari para nenek moyang tersebut bergantung pada umbi-umbian dan tumbuhan liar dihutan salah satunya yang paling dikenal buah pohon Bahuhu atau dalam bahasa Simeulue disebut (Bon Bahuhu) buahnya keras dan terasa pahit untuk bisa dimakan harus melalui proses panjang dan lama selain itu ada juga Sagu Rhitan dalam bahasa Simeulue disebut (Batuk/Batok) diambil dari sari pati batang rumbia yang berduri tumbuh liar dihutan dan rawa-rawa,


Sagu tersebut menjadi makanan pokok utama setiap hari dan tambahan susu balita karena banyak mengandung karbohidrat dan zat-zat lainnya yang sangat menunjungan metabolisme dan energi tubuh manusia, sehingga penduduk asal Simeulue dikenal berbadan kekar,kuat dan jarang sakit.

Sebagai lampu penerang pada saat malam hari mereka menggunakan getah damar atau dalam sebutan bahasa Simeulue (Aladok Surufak) sedangkan pakaian seadanya terbuat dari kulit kayu (Bebek Baerak) kalau tak sering dijemur akan banyak kutunya dan tegang mengeras. Begitulah pahitnya manusia hidup dizaman purbakala tak seperti sekarang serba mewah dan canggih.

Kisah MANDEDE dimulai, kala itu ada satu keluarga yang hidup dipinggir hutan pada suatu hati sang ayah pergi berburu dan mencari sagu,bahuhu atau te'e  yang ada ditengah hutan belantara, hari demi hari berlalu namun sang ayah tak kunjung kembali sedangkan bekal makanan yang ditinggal di gubuk untuk makanan sang isteri dan anaknya telah mengering sebahagian sudah membusuk sehingga tak bisa dimakan lagi,

Air susu sang ibu ikut juga mengering karena tak ada nutrisi makanan yang dikomsumsi, bayi yang masih merah merintih dalam tangisan memekakan telinga karena lapar dan dahaga, perasaan ibu mulai gelisah dan gusar seribu pertanyaan tersirat dalam benak ada apa dan kenapa sang ayah belum kembali dari hutan sedangkan sang anak terus menangis dalam ayunan,

Apa yang harus kulakukan ??? rintahan hati sang ibu dalam keadaan galau tak menentu dan didera rasa lapar luar biasa, ibu yang sudah lemas tak berdaya mengayun-ayunkan ayunan anaknya sambil melantunkan nyanyian "MANDEDE KAMPUNG BONIK " (Nyanyian Kuno) hingga sang anak berhenti menangis dan tertidur pulas dalam ayunan (Dalam kisah diceritakan sang ibu bernyanyi mandidik untuk menenangkan anaknya  yang terus menangis selama berminggu-minggu)

Dari hari berganti minggu sang ibu dalam penantian bersama anaknya dalam gubuk dipinggir hutan belantara, hingga suatu hari menjelang malam sang ayah kembali dari hutan bersama dengan para rekan-rekannya para pria dari Kampung Bonik, mereka berhasil mendapatkan makanan yang banyak dalam berbagai jenis dari buah-buahan, umbi, sagu dan daging buruan,

Betapa girangnya sang isteri yang ditinggal lama tanpa kabar, suasana menjadi haru biru dan bahagia menyelimuti keluarga kecil yang hidup di pinggir hutan Kampung Bonik. Pada malam harinya sebagai rasa syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan mereka makanan dan melindungi mereka dari marabahaya dalam perburuan dihutan serta menjaga keluarga yang ditinggal dikampung, para tetua dan warga Kampung Bonik bermusyawarah serta melakukan pujian-pujian dan mempersembahkan sesajen kepada roh halus atau roh para leluhur mereka,


Ritual dan pesta pora berlangsung sangat meriah, suara tambur/canang dan gong ditabuh membahana  dan menggema seisi Kampung Bonik mengiring tarian dan lantunan nyanyian "MANDEDE KAMPUNG BONIK" sambil mengelilingi api unggung yang kian membesar dan berkobar menerangi alun-alun kampung tempat mereka berkumpul dan melakukan ritual pujian-pujian.

Hingga pagi tiba ritual dan pestapun selesai warga Kampung Bonik kembali ke gubuk masing-masing dengan perasaan senang dan gembira. Mereka sangat bersyukur telah diberikan makanan, kesehatan, keselamatan dan keluarga yang bahagia.

Dizaman itu, agama Islam belum dikenal oleh masyarakat setempat hingga dibawak oleh Tengku Khailullah atau sebutan lazimnya Tengku Di Ujung dari daratan Sumatera yaitu Aceh, Tengku Di Ujung adalah seorang ulama dan tokoh besar yang pertama menyiarkan agama islam di Pulau Simeulue dan mempersunting Putri Melu atau sebutannya dalam bahasa Simeulue (Pek Melu) juga disebut Nenek Ujung, dari nama Pek Melu inilah nama Pulau (U) diadobsi nama Pulau Simeulue dan melekat hingga kini dari ratusan tahun silam.


Demikian sejarah singkat tentang tarian MANDEDE KAMPUNG BONIK yang melegenda, semoga para generasi muda Simeulue lebih mendalami histori dan budaya/adat istiadat asli penduduk Pulau Simeulue sehingga tetap lestari dimasa akan datang tak terkikis oleh waktu dan tak pudar oleh zaman yang kian berubah. (Eko)
×
Berita Terbaru Update